Kamis, 31 Maret 2011

sajak angin, senja dan hujan


Angin tidak ingin terlihat, ia tidak ingin ditangkap. Ia ingin bebas seperti burung yang menumpangnya. Ia hanya ingin mengahmpirimu, lalu membelaimu, memanjakanmu, lalu pergi lagi. Membiarkanmu terlena sejenak. Jangan biarkan berlalu. Tangkap dia, hirup dalam-dalam, lalu biarkan dia memanjakan paru-parumu. Jika sudah selesai, biarkan dia terbang kembali.
          Senja. Sajak diantara matahari dan lipatan-lipatan pegnungan yang hampir meluncur meninggalkan hari. Saat-saat yang megah, awan menari dengan sinaran matahari. Masing-masing bertabrakan membentuk warna seindah mungkin. Seakan tidak akan ada lagi senja berikutnya. Tapi ia bimbang. Sayang untuk melewatkan pagi hari yang begitu bersemangat penih canda dan tawa. Dan tak ingin melewatkan malam yang tenang, penih kedamaian. Karena ia sudah berjanji menemani bintang dan menyandarkan peluhnya pada bulan.
          Langit beradu petang bersama awan. Membuatnya tampak petang, suram. Lalu mereka meneteskan peluhnya ke bumi. Hujan. Membasahi permukaan yang sudah kepanasan bergelut dengan matahari. Memberi harapan akan tumbuh kembali. Menyuguhkan kesegaran ditengah kebersamaan. Aku tak pernah menyesali hujan, karena ia menjanjikanku pelangi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar