Selasa, 08 November 2011

Tentang Ayah


tugas bahasa indonesia membuat cerpen bertema 'Pendidikan Berkarakter'
Cerita ini dimulai disini, diujung ruangan dingin yang ditembus angin dan dibasahi hujan. Diatas kertas bekas penelitian Ibu yang masih putih disebaliknya. Ditemani dentingan jam tua diatasku yang akhir-akhir ini sering terlambat berputar, menurutku. Dan mulailah aku bercerita. Tentang perempuan-perempuan cantik, pria-pria gagah, dan bapak-bapak tua. Perkelahian, cinta, dan kehidupan. Disela-selanya, Ayah selalu mengganggu. Meminta untuk dibacakan satu paragraf, lalu mengangguk-angguk dengan satu tangan didagu.
            Ya, Ayah selalu mendengar yang aku tulis, menjadi pendengar pertama setiap baitnya. Mendengarkan dengan penuh perhatian. Terkadang Ayah memberi masukan bahkan menghapus beberapa kalimat yang kuanggap sudah sempurna. Ayah bukan novelis, sastrawan atau pun ahli menulis.
            Minggu ini aku diikutkan kontes menulis novel.. Ayah yang pertama kali melihat pengumuman tentang kontes itu lalu mendaftar tanpa persetujuanku. Karena aku tahu, Ayah tahu aku sedang mencoba menulis novel belakangan ini.
Berbeda dengan karya-karyaku yang sebelumnya, kali ini Ayah tak banyak ambil bagian. Tidak melulu memintaku untuk dibacakan. Setiap kali aku memaksa Ayah untuk membacanya, beliau hanya berkata, “aku bosan membacanya, biarlah nanti jadi kejutan saja kalau sudah selesai.”
***
Hari ini adalah yang selanjutnya. Seperti biasanya aku berangkat pagi-pagi untuk menyuapi bukuku dengan ilmu disekolah. Matahari belum juga datang menemani burung-burung yang sudah berbaris rapi menyambut. Jalan yang kutapaki masih berbasah hujan semalam. Entah, langkahku sedikit goyah. Malas melanjutkan perjalanan yang tinggal seperempat. Tapi kembali aku diingatkan  akan Ayah dan Ibu yang menginginkan aku untuk tidak seperti ini. Lalu kembali lagi aku kepada langkah tegapku.
 ***
Bel pulang sekolah. Semua berhamburan keluar tak karuan. Ayah berjanji menjeputku hari ini. Maka dengan tak karuan juga aku berlari keluar dan mencari Ayah. Belum datang. Aku tunggu hingga satu-persatu yang lain pulang. Ayah belum juga datang. Mungkin ada keperluan, pikirku. Hingga sudah benar-benar aku sendiri digerbang sekarang. Seorang petugas keamanan sekolah bertanya kenapa aku masih menunggu. Hingga ia merasa perlu menemaniku.
Aku rasa langit sudah lelah menungguku yang menunggu Ayah. Ia berubah menjadi kelabu dan gelap. Petugas keamanan itu menyarankan untuk pulang saja dengan bus kota atau kendaraan umum lainnya. Setelah langit kembali mengisyaratkan kepadaku tanda petang, aku pulang. Dijemput bus kota terkahir yang mampir dihalte dekat sekolah. Syukurlah...
Sampai dipintu rumah, tidak ada yang kuharapkan tadi. Ayah dan Ibu tidak ada diantaranya. Langkahku semakin tidak bernyawa. Didalam, hanya aku dapati Pakdhe menyiapkan makan untukku. Aku bertanya dimana Ayah dan Ibu. Beliau menyuruhku duduk dan makan terlebih dulu.
Setelahnya, Pakdhe mulai bercerita.
Ayah dan Ibu kecelakaan hebat tadi pagi mengendarai kendaraan angkasa saat berangkat mencari nafkah. Dilindas truk besar dari belakangnya. Allahuakbar... Ibu selamat, sedangkan Ayah terluka parah dan belum sadar sampai saat ini.
Tanpa menghiraukan kelanjutan cerita itu, aku menarik Pakdhe untuk mengantarku kerumah sakit tempat Ayah dan Ibu berada sekarang.
***
Sampai dikoridor tempat Ayah masih tertidur, aku saksikan Ibu dari balik kacamata tebalku, menangis tenang. Aku berjalan mendekat dan memeluk Ibu untuk menyembunyikan tangisnya. Ibu memelukku balik sejenak dan menyuruhku duduk disampingnya. Memegangi lenganku yang masih dibalut seragam.
“Maaf, Ibu ndak bisa jagain Ayahmu,” kembali menunduk menyembunyikan tangisnya yang deras.
Aku angkat pundak Ibu dan aku letakkan dipundakku. Semakin lama, semakin tak terdengar lagi tangisan Ibu. Tak kupedulikan maaf Ibu. Ini bukan salahnya, Tuhan hanya sedang memberi kesempatan pada Ayah untuk istirahat sebentar.
***
Dengan waktu yang terus dijalankan Tuhan, Ayah belum juga bangun. Sedang aku terus melanjutkan ceritaku. Ingin sekali aku bacakan kepada Ayah dan memintanya menghapuskan bagian yang sempurna. Tetapi tidak, sampai terakhir kali, Ayah masih tidak mau membaca tulisanku sampai aku selesai dengannya. Aku berjanji untuk lebih cepat menyelesaikan cerita ini. Agar saatnya bangun, Ayah bisa membacanya.
Satu minggu lebih setelah hari itu, ceritaku selesai. Tapi Ayah belum dibangunkan Tuhan. Tidak sabar aku ingin menyodori Ayah dengan tulisanku yang masih lusuh dikertas. Ibu masih setia bercengkrama dengan tasbih setiap malam dan bergelut dengan ayat suci ditengahnya. Mengharap pada Yang Memiliki hidup untuk membangunkan Ayah segera. Begitu juga aku mengikut dibalik mukenanya.
***
Hingga aku pergi ke kompetisi menulis novel itu dan memenangkan piala atasnya. Dan pulang kembali kerumah sakit berharap penuh Ayah sudah bangun.
Lalu didetik yang berikutnya, harapanku purna sepenuhnya, ceritaku tidak lagi ada artinya. Ayah tidak dibangunkan lagi untuk selanjutnya dan selanjutnya lagi. Sampai selamanya. Ayah sudah dijemput Tuhan dengan kereta angkasa diatas cerita kehidupan yang sudah ditutupNya.
***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar