Rabu, 29 Juni 2011

Rabu, 29 Juni 2011

Baru saja kemarin kita berbagi mimpi. Kau bilang, kau ingin berhubungan dengan dunia internasional, di satu universitas keren. Bahkan aku belum pernah mendengarnya, tetapi kau berangan untuk menjadi salah satu bagian darinya. Aku senang kau bermimpi tinggi. Kau bilang kau khawatir dengan biaya. Tapi aku tidak yakin betul kau merisaukan itu. Kau, dan orang” dibelakangmu membantumu sepenuh jiwa raga. Aku berbagi sedikit tentang impianku kemarin yang sudah hilang entah teruap kemana. Aku ingin menyembuhkan orang dan memberi obat gratis, seperti yang ibu inginkan. Tetapi Tuhan mengizinkan aku untuk membangkang, aku diberi jalan lain. Aku masuk jurusan yang dilaknat banyak orang tua. Aku dimasukkan kedalam penjara sesal selamanya, aku menuai pengkhianatanku sendiri. Aku hanya bisa memohon maaf sebesarnya pada dua manusia terhebat yang berdiri menantiku diujung sana. Bersembah harapan akan makhluk pendosa dihadapannya ini.
Tetapi sekarang kau banyak diam, marah akan sikapku. Selama kita, aku banyak, sudah terlalu banyak menumpah air mata di telingamu, yang mendengar peluhku. Disana saat aku membutuhkan hati untuk bersandar. Tapi kau tidak, kau menyimpannya hingga beku dan mengering. Aku tau aku tidak berharga bagimu, aku tau kau lebih nyaman bercerita dengan kawanmu sebaya. Bukan aku, aku hanya pendongeng. Dan saat kau bertanya tentang apa yang kusimpan tentang masa depanku, aku mengelak menjawab. Kau memaksa tapi aku tidak bisa. Maaf, izinkan aku menyimpan satu hal kecil yang bodoh ini darimu. Dan karena hal itu kita berdiam, sungguh sesak.

Aku ingin menjadi direktur ternama, pebisnis kelas satu. Aku ingin berdiri sendiri dan punya beberapa tangan hebat yang menopangku disayap. Aku ingin punya sepatu kuat yang manyanggaku dari sisi bawah. Dan aku ingin berpayung pada Yang Maha Hidup dari sisi teratas. Aku. Yang tidak punya banyak pekerjaan, tetapi berhasil membuat semua senang. Aku ingin disela-sela kertas dan uang, aku memotret. Membidik benda sesuai dengan apa yang dilihat mataku. Aku ingin memotret seperti apa yang diperlihatkan mataku. Tapi aku ragu, banyak. Aku tak punya cukup semuanya untuk membeli satu alat yang mirip seperti kornea mata itu. Aku tidak punya cukup semuanya, aku harus menyimpan seberapa kecil dari sekecil apapun yang kudapat untuk membelinya. Dan saat aku miliki kornea itu, aku tau sudah banyak orang yang memilikinya. Banyak orang yang lebih ahli memandang benda dan menangkapnya dengan kornea itu. Sudah banyak bukti disodorkan alam, bahwa sebelum aku bermimpi tentang ini semua, banyak orang sudah berhasil mewujudkan mimpinya masing-masing. Tertinggalkan-kah aku?

Hari ini aku melihat langit dalam malam. Di ujung timur, ia menyisakan semburat ungu. Tidak begitu jelas, tapi aku menangkapnya. Seandainya ada benda kornea itu, pasti akan kutangkap satu cahayanya untukmu. Kupajang di dindingmu yang rapuh lusuh, agar lebih indah kau pandang. Kau tahu? Aku lebih banyak melihat gelap dari padamu. Dan, aku beritahu satu rahasia, agar kau tidak lagi menangis dalam gelap saat aku tidak ada. Jangan pejamkan matamu. Tataplah kegelapan itu, lama juga tak apa. Setelah cukup, pejamkan matamu sejenak dan saat kau membuka lagi, kau akan melihat kegelapan menjadi lebih terang.  Percayalah. Aku sungguh-sungguh. Bukankah sudah kukatakan, bahwa aku lebih banyak melihat gelap dibandingmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar